Kamis, 26 Februari 2015

Agustus, Entah Kapan


Baru sekejap aku berkata hari ini aku bahagia

Entah tak tau apa sebabnya

Entah apa yang terjadi sebenarnya.

Namun sekejap pula tawa ku sirna

Dua orang terdengar memanggilku

Ku hiraukan, namun terus saja dia memanggil

Tuhan.. mereka papah sahabatku yang terbaring lemah

Apa yang sebenarnya terjadi

Ya, mobil orang kaya itu yang menghamtamnya

Tenang saja si kaya itu tak kembali tanpa rasa dosa

Padahal temanku terpapah bertaruh nyawa..

Tuhan … jangan Kau ambil temanku dulu

Jangan kau panggil dia secepat ini.

Dia adalah sahabatku

Dia adalah sayapku

Dan dia adalah senyumanku

Jika Kau panggil dia,,

Bagaimana dengan tumpuann senyum dan semangatku

Bagaimana pula nasib makhluk kecil yang memanggilnya ibu??

Rabu, 10 Desember 2014

Dear Desember

Hujan kala pagi di Desember sedikit membuatku tersenyum. Mungkin bukan hujan yang akan menjadi titkik berat, namun Desember itu sendiri. Hujan hanya iringingan yang membuat suasana menjadi lebih atau keruh. namun untuk pagi ini, aroma dingin hujan paling tidak menebar senyum dan selera bahagia.
Desember sedikit memberi harap untuk menjelang bahagia, ya walau mungkin hanya harap. Desember memberikan sedikit hembusan nuansa niat baru untuk mu January. Desember pula telah mengingatkan betapa sudah kau beranjak tua, sungguh apa saja yang telah tertapak sebelumnya. Sungguh Desember itu bukan akhir, namun Desember itu titik dimana percik api mulai muncul. Desember itu bagai ulat bulu yang hendak bekepompong. Sudah nampak tua, buruk rupa, dan bahkan mengerikan bagi mereka yang tak menyukainya. Namun hanya butuh sebentar lagi akan menjelma sebagai kupu-kupu indah mempesona. Entah kapan itu, tergantung ia memilih berapa lama ia berpompong.
Desember yang hanya tinggal menghitung hari, Desember tua yang penuh harap. Semoga hitungan akhir hari ini, kau membuatku lebih bijak. Tuan Desember bersamailah doaku agar Tuhan cepat mengabulkan. Dear Desember tolong bersamai semua yang kutlis baru, semua yang ku lukis baru, dan semua yang ku harap baru hendaknya segera menjadi nyata di ujung tahun mu.

Selasa, 09 Desember 2014

Bisik Tembok Bisu

Entah, entah, entah tak tahu kenapa.
Enggan rasanya bernostalgia yang hanya membuat lara. Mengingat kembali masa kejayaan di mana yang ada hanya senyum bahagia, senang, ahh seperti tak punya susah. Dimana kau nakal namun tetap menang, saat kau tak harus jadi orang lurus namun tetap disegani atas prestasimu. saat kau muda, dimana kau belum mengenal betapa sungguh mengagumkanya lika-liku dunia. Kenangan ya hanya kenangan, dimana masa kemenangan beberapa tahun silam pernah hinggap di kehidupan ini. Bersyukurlah karna sudah pernah meencicipi kehidupan yang mudah dan menyenangkan di masa mudamu. Walau kini yang terjadi rentetan cerita klasik untuk para dewasa yang sudah harus memikirkan hidup. sudah datang waktunya untuk kamu memikirkan hidup dengan berteman sejuta peliknya dunia. Telah melambai-lambai pula kenyataan sang kala waktu yang berseru "hey kau sudah mulai menua", sudah datang waktunya untuk menghadapi si hidup yang sedikit pelit.
" Tak apa", bisiku malam ini pada tembok bisu. Kini kau sudah beranjak dewasa walau badanmu kecil, sudah saatnya kau mulai berfikir ala dewasa yang menatap benar dunia. Saat ini, kau harus ucapkan selamat akan suksesnya temanmu. Kau harus berjiwa ksatria, mengucapkan selamat tanpa ragu. Hilangkan apa itu sifat pribumi yang sudah menderamu bahkan bangsamu yang hanya merasa bahagia dikala kau lebih bahagia dari lainnya. Sudah bukan jamannya lagi iri hati dengan teman yang jauh lebih sukses darimu, kemudian merasa nestapa karnanya. Ini saat dimana kamu harus mengakui bahwa dia hebat, dan kau juga harus ikut bahagia. Apa susahnya memberi senyum dan merasa bahagia? Toh kamu juga tak akan kehilangan suksesmu nanti dengan ikut tersenyum melihatnya.
tahu kan sekarang yang perlu kau lakukan sekarang ini : ikut bahagia jangan menyimpan dengki, lekuk lembah hidup itu indah jadi nikmati, dirimu semakin tua nak, maka perbaiki" ~bisik nasihat tembok bisu pada malam ini, untuku