Hujan kala pagi di Desember sedikit membuatku tersenyum. Mungkin bukan hujan yang akan menjadi titkik berat, namun Desember itu sendiri. Hujan hanya iringingan yang membuat suasana menjadi lebih atau keruh. namun untuk pagi ini, aroma dingin hujan paling tidak menebar senyum dan selera bahagia.
Desember sedikit memberi harap untuk menjelang bahagia, ya walau mungkin hanya harap. Desember memberikan sedikit hembusan nuansa niat baru untuk mu January. Desember pula telah mengingatkan betapa sudah kau beranjak tua, sungguh apa saja yang telah tertapak sebelumnya. Sungguh Desember itu bukan akhir, namun Desember itu titik dimana percik api mulai muncul. Desember itu bagai ulat bulu yang hendak bekepompong. Sudah nampak tua, buruk rupa, dan bahkan mengerikan bagi mereka yang tak menyukainya. Namun hanya butuh sebentar lagi akan menjelma sebagai kupu-kupu indah mempesona. Entah kapan itu, tergantung ia memilih berapa lama ia berpompong.
Desember yang hanya tinggal menghitung hari, Desember tua yang penuh harap. Semoga hitungan akhir hari ini, kau membuatku lebih bijak. Tuan Desember bersamailah doaku agar Tuhan cepat mengabulkan. Dear Desember tolong bersamai semua yang kutlis baru, semua yang ku lukis baru, dan semua yang ku harap baru hendaknya segera menjadi nyata di ujung tahun mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar